Ketika Merasa Tak Pantas
Ketika
kau merasa tak pantas mendapatkan cinta, dengan segala pengalaman masa lalumu
yang mengecewakan. Perjalanan itu sudah diatur saat kau temukan relung dan kau berharap
menjadi bagian yang menyembuhkan. Tapi lagi-lagi kau merasa bahwa kau tak layak
untuk mendapatkan itu, hatimu belum bisa memaafkan noda-noda yang ada di balik
kisahmu. Tentu saja…iya, langkahmu menemukan ragunya dalam setapak tanpa alas
kaki. Terasa panas dan perih pada luka-luka, pada setiap langkah yang kau
ayunkan dalam heningnya keinginanmu. Cukup melelahkan untuk terus-menerus
terperangkap pada masa seperti ini, terjebak dalam cerita pesimisnya
mendapatkan dan menemukan. Benar saja, kau masih saja berpikir tentang layak
dan tak layak, terlalu kotor untuk mendekatkan diri pada kemurnian.
Pagi-pagi
kau terbangun setelah melewati mimpi yang selalu menjadi harapan, hasil khayal
yang kau cipta seblum mata itu terpejam. Terus saja seperti itu hampir setiap
galap akan mengantarkanmu memebuai raga yang kelelahan. Bukan saja wajahnya
yang kau kagumi, tapi semua yang telah melekat padanya akan terus menjadi imaji
paling indah bagimu. Kau tak perlu lagi mencari alasan di balik semua itu, aku katakan
bahwa itu karena kau ciptakan sendiri. Seperti kau suka pada sebuah rancang arsitektur—walau
dengan kadar seni yang rendah—dan kau bangun menjadi rumah, rumahmu sendiri. Kau
nyaman di rumah itu. Nyaman bukan karena hanya kau suka, karena kau buat
sendiri dan itu adalah rumahmu.
Sepanjang
hari ini, pikiranmu tak bisa lepas dari pengharapan yang telah menyembuhkan, dia yang menjadi muaranya. Begitu seterusnya sampai pada
tekad untuk mau memaafkan masa lalu yang berbekas itu. Apa lagi yang harus kau
lakukan? Aku katakan, tekadmu akan terjawab oleh detik-detik yang cukup
panjang, dan orang biasa menyebut itu waktu. Kau hanya butuh menjaga tekad
dalam permainan waktu yang tak punya ujung itu. Menguatkan pengharapan pada
Tuhanmu, memberikan puji-pujian yang tulus dan menjadikannya teristimewa.
Ikutilah jalan itu, mustahil kekhawatiranmu akan menang melawan kebaikan Tuhan.
Tapi pengharapan penuh tekad itulah yang dimenangkan-Nya dan akan menjadi
ketetapan-Nya untukmu.
Sambil menunggu ketetapan
Tuhan, jangan kau hanya membaca, tapi persiapkan juga pena dan kertas kosong,
dan itu bisa dijadikan modal untuk membuat sebuah karya yang hebat. Karya
tentang pengharapanmu yang kau jaga dalam gulir masa. Tulislah dalam kertas
kosong itu kalimat-kalimat hati yang jujur, jadilah sebuah pengakuan yang
menguatkan. Bila ternyata itu cinta, pasti kau kuat untuk menunggu, bukan hanya
dalam satu putaran kalender hijriah, tapi untuk waktu yang tak terhitung oleh
siapapun. Sampai kau juga merasa yakin bahwa kau layak untuk mendapatkan cinta.
Sampai pada titik itu paling tidak.
Salam Kau Penuh Harap!!!


Komentar