Sekelumit Langkah Catur


Menjelang tengah hari kulihat mendung menjadi persembunyian matahari. Akan turun hujan, dan sudah turun hujan ketika satu set papan bercorak hitam putih digelar. Sang raja terpojok, hampir tak berkutik ketika perwira mendukung manuver benteng dengan kawalan kuda yang tangguh. Sekak mat waktu hujan turun sederas-derasnya hari ini. Permainan terus berlanjut tetapi dengan formasi yang kembali rapi. Itulah catur yang dimainkan oleh amatir seperti kami hari ini, dengan sedikit strategi dan pengawasan yang masih dangkal. Terkadang hanya menjadi ajang melatih ketelitian dan konsentrasi, belum untuk melatih strategi. Permainan ini juga mampu menjadi analogi kehidupan kami di hari-hari yang lalu dan (mungkin) beberapa hari ke depan. Tentang langkah-langkah yang dijalankan oleh kemauan sendiri atau penuh dominasi yang memaksa.

Hidup di perantauan menjadi pilihan yang baik untuk belajar menjadi pion sekaligus raja, perwira atau benteng, tidak jarang seperti kuda dan harus selalu menjadi perdana menteri bagi diri sendiri. Semuanya kita yang memainkan, entah untuk mengancam atau diancam atau saling berkompromi dan akhirnya seri. Bila boleh sejenak untuk menganalogikan hidup, permainan catur dengan peluangnya masih berada di peringkat teratas. Dalam permainan catur jumlah kemungkinan untuk memainkan sepuluh langkah pertama bagi kedua pemain adalah 169.518.829.100.544.000.000.000.000.000, dan hal ini sama dengan mengambil keputusan dalam hidup. Banyak kemungkinan dan peluang, tetapi mau tidak mau harus kita putuskan jika permainan ingin terus berlanjut. Menyerah berarti mati.

Aku bukan orang yang ahli dalam bermain catur tetapi bisa memainkannya. Permainan ini perlu strategi, koordinasi, konsentrasi, kemampuan bertahan sekaligus menyerang, langkah-langkah yang disiplin juga permainan emosi. Bahkan lebih dari itu. Dalam hidup juga sama halnya demikian walau tak sepenuhnya. Ada dua menurutku yang berbeda, pertama adalah tujuan dan kedua yaitu proses. Hidup tidak selalu untuk menang atas orang lain walau naluri manusia untuk mendominasi. Ahli filsafat mengatakan bahwa kita hidup untuk mencapai kebahagiaan dan saya mem-persepsikan ini lebih pada menang atas diri sendiri. Merasakan dan mengenang proses supaya menang atas diri sendiri, juga mengalaminya untuk kita bingkai menjadi suatu kebanggaan, salah satu unsur kebahagiaan dalam hidup.

Pernah suatu ketika dalam permainan catur, aku harus menjalankan buah catur dengan sia-sia. Berharap dapat memenangkan permainan tetapi berakhir dengan kekalahan. Langkah demi langkah dijalankan dengan manis dalam permainan itu. Manis sekali. Tahu apa akhir dari permainan itu? Kekalahan telak. Aku tergesa-gesa menyerang tanpa memikirkan pertahanan, dan aku terpancing. Terpancing untuk bermain manis dengan hasil mengecewakan. Itulah yang terjadi, memutuskan untuk menyerang di waktu yang tidak tepat, terlalu emosional, percaya diri, dan mudah tergoda kenyamanan. Dan papan itu harus digelar kembali dari awal. Kesalahan dalam permainan sebelumnya menjadi catatan, sebisa mungkin jangan kita ulangi jika tidak ingin merasakan kekecewaan yang sama.

Hal serupa mungkin pernah kita alami dalam hidup, memutuskan sesuatu di waktu yang kurang tepat bahkan tidak tepat sama sekali. Apa yang harus kita lakukan sebagai manusia? Banyak kemungkinan. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak juga jalan keluar ketika kita terpuruk dan merasa kalah, hampir sama dengan permainan catur. Yang perlu untuk kita lakukan setelah kalah dan terpuruk adalah menghadapi permainan yang baru, jangan lari dari dan berusaha belajar dari pengalaman sebelumnya. Jika tidak, kekalahan itulah yang menjadi akhir perjalanan kita. Kita harus terus bermain hingga akhirnya menang dan menang, menjadi dan terus menjadi sampai saatnya kita dihentikan oleh semesta. Keberanian, kata Datok Pram adalah hasil latihan dan latihan pertama adalah hadapi! Jangan lari!!!

Komentar

Postingan Populer