MERIMBA DI KAMPOKNG DURIAN
Suhu
yang cukup dingin mulai menggerayangi, sekalipun setelah kami berjalan dengan
medan mendaki. Hampir petang ketika aku dan rombongan turun untuk kembali ke
penginapan di desa Nglinggo, Kulonprogo, Yogyakarta. Beberapa pohon berdiameter
kira-kira 50 cm berdiri secara acak di kiri dan kanan jalan saat salah satu
Dosen bertanya tentang pohon di Kalimantan. Aku bilang, kalau pohon-pohon yang diameternya cukup mencolok dari
pohon-pohon yang lain di Nglinggo belum bisa menandingi yang ada di Kalimantan.
Beliau merespon bahwa, kalau di Eropa pohon seperti di Kalimantan sudah
dianggap heritage.
Percakapan
sambil jalan itu ternyata bisa mengingatkanku tentang perjalanan dan kegiatan
yang pernah aku lakukan bersama teman-teman komunitas di kampung. Cerita ini sudah beberapa tahun yang lalu dan agak cukup usang
mungkin untuk diceritakan, tepatnya tahun 2009 ketika menjadi mahasiswa yang sedang
cuti kuliah. Situasi inilah yang melatarbelakangi perjalanan kami ini, dan
secara pribadi ingin keluar dari depresi serta menata kembali spiritualitas di alam bebas.
Persiapan
yang kami lakukan beberapa hari sebelumnya memang tidak begitu optimal, dan
petualangan ini harus dijalankan. Kami harus memulainya! Tidak ada persiapan
khusus selain untuk keperluan makan, minum dan perkemahan. Bersama keenam
teman, jalan berlumpur dan berbatu hasil karya perusahaan logging yang sudah
ditinggal sejak lama akan kami tempuh. Terlihat orange, mengkilap dan licin untuk
dilalui menggunakan sendal jepit serupa kulit nangka, lagipula habis disiram
hujan dari malam hingga pagi hari. Salah satu teman berujar, hujan yang penuh
keindahan dan kekecewaan.
Kami
berangkat kira-kira pukul 09.00 WIB di bawah sinar matahari yang tidak begitu
terik. Sepanjang perjalanan, burung saling bersautan dan beradu kicau seolah
ingin pamer kepada kami dengan nadanya yang lembut. Nyanyian alam yang sungguh
memacu semangat walau bukan dengan ketukan dua per dua seperti sebuah lagu
Mars. Tujuan kami adalah sebuah hutan dengan ratusan pohon durian berukuran dua
kali bahkan lebih besar dari pohon di desa Nglinggo. Hutan itu biasa disebut
dengan Kampokng (kampung), yang
dengan maknanya adalah “kampung durian”.
Bulan
November 2009, adalah saat pohon-pohon durian di Kampokng melahirkan
kembangknya—berharap menjadi buah—setelah beberapa bulan tidak bereproduksi.
Biasanya masyarakat di Sepotong, Kalimantan Barat, yang memiliki ladang atau
kebun di sekitar “Kampung Durian” menyempatkan diri untuk sekedar menyiangi
tumbuh-tumbuhan liar di bawah pohon durian. Harapannya, supaya lebih nyaman
untuk nyandau durian ketika buah-buah
durian itu jatuh. Nyandau merupakan aktifitas
memanen dengan cara menunggu buah-buah durian itu melepaskan diri secara
alamiah dari pokoknya.
Cara
memanen durian seperti ini diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Selain karena tinggi pohon yang mencapai puluhan meter, ada mitos yang dipegang
oleh masyarakat di Sepotong. Bila kita memanen dengan cara di luar itu, seperti
memanjat, dengan bantuan alat tertentu dan atau mungkin dilempari, durian tidak
akan mau berbuah lagi bahkan berujung kematian. Ini mengisyaratkan bahwa durian
sebagai representasi alam tidak boleh dipaksa sesuai kehendak manusia. Selain
itu juga sebagai sebuah regulasi yang diatur oleh alam untuk membagikan hasilnya
kepada manusia secara adil.
“Kampung
Durian” memiliki bentuk geografis yang hampir sama dengan daerah-daerah lain di
Kalimantan, berbukit dan ditumbuhi hutan hujan tropis, tetapi memiliki
karakteristiknya sendiri. Karakter itu berupa dominasi tumbuhan durian pada
hutan yang multikultur, walaupun ada beberapa tanaman lain seperti belimbing
hutan, rambutan, mentawa, duku, langsat dan jenis buah-buahan lain khas hutan hujan
tropis. Ia bukan perkebunan yang didesain untuk tumbuhan monokultur, tetapi dulunya
sebagai penanda hak pengelolaan hutan sekitar oleh masyarakat. Semacam prasati sekaligus
tanda batas wilayah yang ditanam secara tumpang sari.
Jaraknya sekitar 7-8 km dari Desa Sepotong, dan kami tempuh dalam waktu hampir 2 jam. Begitulah yang tercatat dalam buku harianku yang sudah kumal. Sepanjang 6 km kami menyusuri jalan bekas perusahaan logging, dan sisanya harus melewati jalan setapak ke dalam hutan. Melewati rawa yang biasa dimanfaatkan untuk sawah tradisional—dalam bahasa lokal disebut ambor—sepanjang kurang lebih 100 meter. Turun dan naik bukit di bawah pohon-pohon rimbun dengan aroma hutan yang khas cukup membuat keringat semakin bersemangat.
Namun sebelum memasuki hutan,
terus saja aku berpikir tentang infrastruktur jalan yang tidak memadai untuk mencapai
tempat yang kami tuju, ke persimpangan masuknya sekalipun. Padahal jalan
tersebut dapat dibilang sebagai “jalan perekonomian” masyarakat sekitar, yaitu
akses untuk menuju ke kebun karet, ladang, serta tanah ulayat yang biasa dimanfaatkan
untuk mengais hasil hutan. Selain itu, endemik hutan yang jumlahnya tak
terhitung merupakan kekayaan luar biasa dan merupakan laboratorium alami yang
spektakuler. Mungkin bisa dimanfaatkan pula oleh sekolah-sekolah sebagai kelas
lapangan untuk pelajaran ilmu pengetahuan alam.
Dalam perjalanan terkadang
kami harus berhenti hanya sekedar untuk berfoto dengan landscape alam yang indah. Sawah tradisional menghampar luas di
bawah bukit Ncanggah dan ladang natai
(bukit) milik beberapa warga Sepotong di bagian atasnya. Sawah, ladang dan
bukit itu kesemuanya dilingkari oleh hutan yang masih hijau. Panorama luas ke
utara menghampar, sawah yang hijau muda, hutan yang hijau tua hingga bertemu si
biru langit, sungguh menyegarkan hati dan pikiran. Alam seolah memperagakan
panggung melankolis yang mengharukan. Kami ikut terharu. Tapi kami juga harus
buru-buru sebelum kalah oleh waktu.
Awal yang bagus untuk menata
kembali spiritualitas pikirku. Semesta yang rahasia dan penuh aroma purba
ternyata lebih dasyat dari Psikolog manapun. Ia persuasif dan berdaya untuk
menceburkan diriku dan kami (mungkin) untuk berefleksi akan hidup. Perjalanan
ini penuh pesan moral dan kesan spiritual. Mengesankan! Bukan karena soal
medannya yang menantang dan sulit, atau keindahan yang tertangkap mata, atau
suhu yang memanjakan kulit. Bukan! Bukan itu! Tapi karena perjalanan kali ini
adalah wisata batin yang mampu memberikan sebuah esensi pariwisata dengan
keotentikannya.
Waktu menunjukkan pukul 10.05
WIB, dan aku harus mencatat sesuatu, entah apapun itu. Walau hanya waktu di jam
tanganku. Kulihat teman-teman tidak kelelahan sedikitpun, beberapa dari mereka
menghisap rokok kretek merk Kawe Jaya. Sepertinya ia benar-benar menikmati
perjalanan ini. Saling berbicara dan bersanda gurau sudah tentu kami lakukan
setiap kali berhenti. Di perhentian ini tidak banyak yang aku catat, sekedar
mendefinisikan sebuah petualangan dengan yang kami rasakan di perjalanan.
Mendefinisikan dengan hati.
Masih di perhentian, dan setengah
perjalanan sudah kami tempuh. Sebentar lagi akan memasuki hutan. Khawatir ada
yang tercecer di jalan, kami cek kembali segala perlengkapan yang dibawa. Tak
lama setelah itu perjalanan berlanjut dengan perasaan yang tidak sabar untuk
menikmati malam di dalam hutan yang rimbun dengan pohon-pohon durian yang gagah
sebagai pagarnya. Namun yang akan kami hadapipun lumayan menguras tenaga.
Sedikit kesulitan perlu diatasi dengan pengalaman, terutama ketika harus
melewati jalan yang di sisi-sisnya penuh semak belukar yang tajam dan bisa
membuat luka. Ada lagi jalur mendaki yang licin dengan bebetuan yang tajam,
apalagi yang membantu hanya sendal jepit dan tongkat kayu ala kadarnya.
Kemungkinan tersesat di hutan juga memiliki peluang yang cukup besar. Ini hutan
rimba!


Komentar