Lebih dari Sekedar Layak


Waktu itu kira-kira hampir jam tujuh malam kami datang, dan baru pertama kali bertemu secara langsung dengannya. Di kursi ruang tamu kami menunggu ia selesai bersiap-siap. Perkenalannya pada pertengahan tahun 2014 lalu, dan setelah aku cek pertemanan kami di facebook, itu sekitar bulan Juni. Lewat jejaring sosial inilah awal mula dan muara kisah panjang yang akan aku ceritakan secara singkat ini. Cerita apa adanya. Cerita ini juga bukan curhatan atau sejenisnya, hanya mencoba untuk mengabadikan momen-momen tertentu. Siapa tahu ini berguna dan bermanfaat di kemudian hari. Semoga.

***
Dia paling suka posting foto dengan keterangan-keterangan yang sangat panjang lengkap dengan tagar-tagarnya. Aku adalah salah satu (mungkin) yang suka sekali membaca keterangan-keterangan dari foto yang Ia posting, walau terkadang berulang. Aktivitas ini biasa aku lakukan sebelum memejamkan mata di malam hari, tak jarang sambil menikmati jepretan-jepretannya. Suka sekali dengan wajah-wajah di foto itu, dari dulu. Selain wajahnya yang fotogenic, kepribadiannya juga kebetulan aku tahu sedikit karena memang lumayan seringlah bareng Dia. Teman yang asyik dan baik. Mungkin juga lebih baik dan lebih asyik jika lebih dari itu (teman). Wah...ini problemnya.

Singkat kisah, sampailah akhir tahun 2015 lalu ketika menjelang Natal dan tutup tahun akan tiba. Kebetulan saja aku mencoba berefleksi akan perjalanan hidup selama setahun yang lalu, dan aku merasa jadi lebih baik, lebih tenang, tidak lagi terlalu emosional, dan kehidupan religiusku pulih kembali. Semacam ada semangat baru untuk menghadapi dunia ke depan. Aku benar-benar sadar kalau Tuhan telah mengirim orang-orang yang luar biasa, menjadikanku lebih dari sebelum-sebelumnya secara spiritual dan pribadi, dan salah satunya Dia. Iya...Dia yang dominan memberikan garis vertikal pendek memotong garis horizontal dan ada titik pertemuan di tengahnya. Ku ingat-ingat lagi hari bersamanya, dan semakin yakin bahwa Dialah orangnya. Aku harus berterima kasih. Harus Aku sampaikan, dan semoga ketulusan itu juga dapat Dia tangkap secara penuh. Hanya berterima kasih dan Dia percaya bahwa itu tulus, itu harapanku.

Jreeeeng....Aku salah langkah dan keliru ambil kesimpulan. Niat ingin berterima kasih justru bertindak lebih dari itu. Bukannya bisa menyampaikan, dan ketulusan dari ucapan terima kasih itu dapat tertangkap olehnya, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Ilfeel sepertinya Dia sama Aku. Itulah sulitnya kalau menjadi orang yang terlalu jujur. Tapi tak apa-apa, inilah dinamika yang terjadi sekarang, harus dihadapi dan sementara harus bersabar. Aku harus mencari jalan dan cara yang baru agar tak kehilangan senyuman naturalnya. Karena pribadiku rasanya sulit untuk menemukan hal semacam ini, dihampiri oleh rasa yang sekarang ini menyemangati. Sulit sekali menemukan titik temu seperti yang aku temukan padanya. Seklai lagi aku harus berusaha dan mencoba alternatif-alternatif lain.

Ah sudahlah....aku belum benar-benar yakin kalau usaha selanjutnya juga akan berhasil, tapi setidaknya aku pernah berjuang, walau untuk yang terakhir kalinya. Karena di balik ketidakyakinan itu juga aku yakin bahwa dia layak untuk diperjuangkan. Aku juga tahu bahwa itu lebih dari sekedar layak.


Komentar

Postingan Populer