Anak-anak Ini

Komunitas Anak Baroh Rumah
Berdiri (dari kiri): Karbido, Belo, Kito, Ripo, George, Klara, Vila, Iyet
Jongkok (dari kiri): Anjar, Lulut, Ringgo, Mida, Cindy
Pagi itu udara benar-benar terasa sejuk, dan kesegarannya menyapa raga bahkan sampai ke jiwa. Aku bernafas lega di pagi pertamaku saat berada di kampung halaman, tepatnya awal Februari 2015 yang lalu. Sebuah keputusan yang agak menyedihkan karena harus cuti kuliah di saat menjelang akhir-akhir studi . Pulang ke kampung halaman menjadi pilihan. Ada beberapa buku yang aku bawa untuk mengisi waktu luang di rumah, tanpa sinyal seluler, apalagi internet yang sudah menjadi bagian dari kebutuhan selama kuliah.

Kopi menjadi teman pertamaku dipagi itu, dan aku bikin sendiri karena yang lain minum teh. Rumahku yang memiliki teras depan dengan ukuran yang luas adalah tempat favorit saat sang surya baru nongol. Rumah sederhana ini menghadap ke barat, sebelah kiri ada pohon mangga sementara apabila pandangan sejurus depan rumah, sekitar 50 meter berdiri sebuah SD swasta--SD ku dulu. Banyak anak-anak bermain sebelum berbaris dan masuk kelas. Suara candaan mereka tidak jarang sampai ke bagian belakang rumah karena saking ramainya.

Pagi itu aku benar-benar bernostalgia dengan masa kecilku yang masih ingusan, yang belum mengerti apa-apa dan senang merengek-rengek untuk dibelikan sesuatu yang aku inginkan. Kecilku dulu juga senang mandi di sungai, bermain di bawah kolong rumah, terkadang berburu burung-burung di bawah pohon beringin bersenjatakan ketapel. Bersama teman-teman kecilku juga tidak absen untuk membuat mainan sendiri dari berbagai jenis sampah, atau apa saja yang bisa dimanfaatkan dari alam sekitar. Walau terkadang minta dibuatkan oleh orang lain, dan yang biasa menjadi langganan kami adalah Nongah (Paman) Hapen, juga biasa memotong rambut kami. Waktu itu beliau masih bujangan.

Banyak sekali yang melintas dalam bayangan masa kecilku pagi itu, dan tak terasa kopi sudah habis, dan aku kira itu bukan karena gelasnya yang bocor. Terlalu asyik memang bermain-main dengan kenangan masa lalu. Hampir lupa aku membaca buku yang ada di tangan. Setelah sadar baru aku lanjutkan membaca dengan sesekali melihat orang-orang yang lewat dari jalan depan rumah. Berjam-jam buku menemani sampai kulihat murid-murid SD kelas 1 dan 2 pulang, dan beberapa dari mereka memanggil dengan akrabnya, "Bang Mindaw...Bang Mindaw...,"

Mereka adalah Ripo, Belo, Vila, Anjar dan Mbio. Ihhh...lucunya anak-anak itu dengan seragam merah putih yang masih sangat kebesaran. Dengan saling bergandengan, dan agak malu-malu anak-anak itu mampir dan bertanya tentang buku yang aku baca. Obrolan pun dimulai, dan ternyata masih ingat mereka dengan janjiku tahun lalu. Mereka ingin piknik. Aku mengiyakan saja. Kegembiraan dari wajah dan bahasa tubuh mereka sangat khas sekali. Ripo dan kawan-kawan langsung pamit dan meminta ijin untuk mengajak teman-temannya yang lain. Aku mengiyakan.

Mereka berlalu, tetapi kegembiraan yang mereka bagikan tadi masih tertinggal di situ. Luar biasa sekali pikirku. Semakin membuatku bersemangat dan makin bergairah. Makin menjadi-jadi saja bayangan masa kecilku. Tidak sempat aku habiskan satu bab di buku, sudah ramai saja anak-anak tadi datang bersama teman-temannya yang lain, dan dengan antusiasnya ingin merencanakan piknik bersama Bang Mindaw. Ada juga yang bertanya tentang kota, luar angkasa, game, dan macam-macamlah pokoknya. Aku ajak mereka bermain kartu dan ku ajarkan beberapa trik tipuan mata dengan kartu itu. Senang sekali mereka.

Setelah hari itu, hampir setiap hari mereka berkunjung ke rumah, kecuali saat aku tidak ada. Semakin intens saja rasanya, semakin akrab hubungan dengan anak-anak itu. Terkadang kami juga jalan-jalan pagi mengelilingi kampung halaman bila mereka libur. Kalau sore biasanya mereka akan ikut aku ke lapangan bola. Dengan setia mereka menunggu dan menonton hingga aku selesai bermain bola dengan teman-teman.

Banyak kejadian-kejadian lucu saat bersama anak-anak itu, terkadang juga menjengkelkan, tapi banyak yang mengesankan dan menggembirakan. Benar-benar mirip dengan masa kecilku, anak baroh rumah (anak bawah kolong). Iya...aku sebut komunitas kecil ini Anak Baroh Rumah. Lewat komunitas  (baca: pertemanan) inilah aku mendengar cita-cita dan harapan mereka. Beberapa dari anak-anak itu juga aku lihat memiliki kemampuan yang tinggi, kreatif dan memiliki potensi yang hebat. Sama sepertiku, sebagai anak pedalaman mereka ingin menyeberangi lautan dan terbang melintasi pulau-pulau. Sederhana yang mereka inginkan, tapi aku menangkap impian itu adalah sebuah cita-cita yang dalam. Sebuah mimpi (seperti yang aku rasakan dulu) yang akan terus kita percayai dan menjadi semangat. Terus Bermimpi Adek-adek!!!

Komentar

Postingan Populer