Pergulatan Orang Dayak dalam Relasi Politik "Hari Ini"

Diskusi Pembuka

Pembicaraan yang mengkaji soal kebudayaan kerap kali dikait-kaitkan dengan proses atau cara sebuah identitas dibentuk melalui konsepsi politik. Hubungan semacam ini menarik untuk dilihat, terutama apabila kita merunut sejarah panjang tentang persoalan identitas yang telah lama diintervensi oleh sistem politik. Konteks masyarakat Dayak, tentunya sudah menjadi cerita lama bahwa keterlibatan elite-elite politik lokal dalam komodifikasi identitas Dayak membawa pengaruh yang cukup besar dalam perebutan-perebutan ruang kekuasaan di berbagai level. Dengan label identitas, orang-orang Dayak diorganisir dan dijadikan klien untuk kepentingan politik para elite—meminjam istilah Yekti Maunati, elite-elite itu disebutnya orang yang “sok superior”.[1]

Sumber Foto: http://postkotapontianak.com/wp-content/uploads/2015/09/Foto-bersama-pada-kegiatan-Musawarah-Nasional-IV-MADN..jpg
Perjalanan panjang perjuangan orang-orang Dayak di Kalimantan telah cukup memberi pengalaman bagi kita, terlebih secara politis berkaitan dengan gerakan-gerakan untuk keluar dari yang tersubordinasi, other, yang terbelakang, ‘primitif’, serta citra-citra penghinaan lainnya. Konsekuensinya, kini orang-orang Dayak kontemporer (katanya) telah tampil sebagai elite-elite politik baru di “kamar-kamar” lokal administratif negara. Para orang-orang Dayak yang berlabelkan elite ini kemudian memposisikan diri mereka sebagai representasi keberhasilan masyarkaat Dayak yang dulunya terpinggirkan. Setidaknya kita memberi apresiasi atas pencapaian tersebut—tentunya bukan apresiasi yang berlebihan. Namun, kita perlu meyadari bahwa hal-hal semacam itu baru memperlihatkan sebuah euforia, dan belum menyentuh persoalan-persoalan orang Dayak yang substansial.

Banyak kritik yang ditujukan kepada para elite-elite[2] Dayak karena belum mampu memecahkan persoalan-persoalan masyarakat Dayak, dan justru malah mengadopsi cara-cara kolonial untuk memanfaatkan saudara-saudara Dayak-nya yang lain untuk kepentingan yang oportunis—walaupun tidak semua, toh sebagian besar elite masih demikian. Kompleksnya permasalahan seperti ini seolah mempersempit peluang untuk keseimbangan hak-hak politik bagi orang-orang Dayak, alih-alih kita mendapati keterputusan dengan yang merepresentasikan masyarakat Dayak di lingkaran kekuasaan. Belum lagi kuatnya sifat patronisme kita sebagai orang Dayak terhadap elite-elite tersebut, dan pada akhirnya mengkonstruksikan diri kita sebagai yang diintervensi kekuatan-kekuatan dominan.

Politik Dayak sebagai Tandingan

Sejarah dan pengalaman faktual tentang dilema masyarakat Dayak masa kini menunjukkan bahwa menjadi bagian dari kekuasaan belum cukup tanpa pemahaman akan istilah seperti itu. Politik tidak melulu ‘berkaitan’ dengan kekuasaan, tetapi ‘berbicara’ tentang kekuasaan itu iya—dan itu hanya salah satunya. Selain itu, para elite Dayak mungkin perlu menyepakati konsep Gramsci, dimana kekuasaan harus dipahami sebagai sebuah hubungan (Roger Simon, 1999). Lebih lanjut, hubungan ini mengarah pada sifat dialogis—berbeda dengan komando—antara elite dan yang tidak elite. Berpijak pada pengalaman empirik seperti ini pula, sebagai orang Dayak kita perlu membangun kelompok hegemoni tandingan untuk mengontrol secara tegas siapa saja yang menyebut dirinya sebagai representasi masyarakat Dayak di dalam lingkaran kekuasaan.

Masih mengacu pada Gramsci, perjuangan politik tidak boleh sebatas untuk merebut kekuasaan, tetapi harus diperluas pada seluruh masyarakat Dayak. Artinya kita belum puas hanya dengan mengantarkan orang-orang Dayak menjadi elite-elite politik (lokal), tetapi perlu untuk mencapai tingkat hegemoni yang kuat di dalam masyarakat Dayak itu sendiri sebagai syarat untuk melakukan kontrol terhadap mereka yang berada di posisi elite.[3] Secara implisit, mungkin masyarakat Dayak perlu menabuh genderang—meminjam istilah Gramasci—perang posisi (waf of position) sebagai tandingan bagi para elite Dayak yang berkhianat atas legitimasi kaumnya. Mungkin strategi seperti ini sangat berguna untuk menandingi rovolusi pasif khas para elite Dayak yang telah terkontaminasi dengan budaya oportunis.

Strategi membangun suatu kelompok besar seperti Majelis Adat Dayak Nusantara (MADN) yang disatukan oleh konsepsi yang sama sepertinya cukup menjanjikan untuk merealisasikan apa yang disebut oleh Gramsci sebagai ‘perang posisi’ (war of position). Namun sayangnya, para pemimpin dari aliansi ini berposisi ganda, baik sebagai komandan di aliansi itu sendiri maupun sebagai elite politik lokal. Sedikit banyak, situasi yang terlihat pada kasus MADN ini kembali membatasi cita-cita akan hegemoni tandingan yang diharapkan. Walaupun dalam hal ini saya tidak menjustifikasi MADN sebagai ‘revolusi pasif’ para elite, namun apabila terus-menerus sistem seperti itu dipelihara, saya khawatir hal semacam itu mungkin saja tumbuh di dalam aliansi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal ini, selama tidak menghianati kaum sendiri, namun ketakutannya, dalam bahasa Micel Foucault, tidak berarti segala sesuatu dianggap buruk, tetapi segala sesuatu bisa berbahaya.

Terkadang kita kritis terhadap situasi-situasi politik tertentu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat Dayak, namun sayangnya banyak yang merasa itu bukanlah menjadi tanggung jawab kita. Kita hampir selalu menyalahkan para elite Dayak yang belum mampu membantu menyelesaikan persoalan-persoalan kaum, padahal kita sendiri tidak mau berbuat. Kebanyakan dari kita menganggap bahwa politik itu kotor dan melihatnya dengan sempit—politik dipahami hanya sebatas politik praktis. Oleh karena itu saya beranggapan bahwa perlu dibangun pemahaman yang mendasar tentang konsep politik, karena sebagai masyarakat yang bernegara kita tidak akan pernah lepas dari yang namanya politik. Perlu diingat bahwa politik tidak harus menjadi bagian di dalam lingkaran kekuasaan, tetapi lebih dari itu kita perlu memiliki sikap politik kritis supaya tujuan yang ingin dicapai tidak melenceng dari rasa keadilan.

Secara khusus, logika utama yang ingin kita bangun dalam konteks politik masyarakat Dayak saat ini terletak pada hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan ideoligis. Suatu organisasi konsensus tanpa hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan. Artinya dalam kehidupan politik masyarakat Dayak dewasa ini penting untuk diwujudkan dengan apa yang disebut Nitiprawiro (2000: xli) sebagai penemuan kembali roh tradisi Dayak yang dapat mentransformasikan sikap pasif menjadi sikap percaya diri dan tekun berjuang[4] dengan bingkai integritas. Harapannya, melalui politik yang seperti ini mampu memberikan optimisme serta dapat menjawab persoalan-persoalan akut yang sedang kita alami saat ini terutama mengenai kualitas politisi-politisi kita yang mendefinisikan diri secara paksa sebagai representasi masyarakat Dayak.

Gerakan Politik Dayak: Menggali Semangat Warisan Tradisi

Althusser mendefinisikan ideologi sebagai ‘sebuah “representasi” tentang relasi imajiner individu-individu dengan kondisi real keberadaan mereka.’ Karakter ‘imajiner’ relasi ini mengacu pada karakter ideologi yang menyebabkan suatu kondisi tidak terpersepsi tanpa terdistorsi (Maria Camergo Heck, 1980). Selaras dengan definisi Althusser tentang ideologi ini, kemungkinan, integritas mampu digali melalui semangat warisan tradisi yang real dalam gerakan politik masyarakat Dayak saat ini. Dengan semangat warisan tradisi leluhur yang arif mengharuskan kita memikirkan kembali ideologi yang niscaya adalah palsu.

Secara pribadi saya tidak ingin terjebak dalam diskusi filsafat akan penggalian makna ideologi yang disampaikan oleh Althusser. Biarlah definisi tentang ideologi yang ditunjukkannya sebagai alat analisis kritis para pencanang cultural studies. Saya hanya ingin mengkaitkannya dengan pengalaman empirik kita tentang masyarakat Dayak sekarang yang sedang disamarkan dan seolah terpersepsi tanpa terdistorsi itu. Hal ini terlihat jelas ketika sudah banyak orang-orang Dayak menjadi terpelajar, menjadi elite-elite politik, pandai berbisnis, dan sebagainya, namun tetap saja frekuensi masyarakat Dayak yang terisolir dari akses pelayanan publik, akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masih begitu tinggi. Fakta-fakta seperti ini mungkin sengaja dialihkan dan dibungkus sedemikian rupa sehingga tidak terekspos oleh banyak orang.

Semangat warisan tradisi masyarakat Dayak dapat dilacak dari beberapa sikap hidup orang Dayak yang dirumuskan oleh Paulus Florus dalam Francis Wahono Nitiprawiro (2000) seperti suka berbagi, demokratis dan egalitarian, cinta damai, serta berintegritas tinggi. Namun sayangnya, sikap-sikap seperti itu membuat orang Dayak seringkali dimanfaatkan untuk melenggangkan kepentingan-kepentingan praktis segelintir orang saja. Hal ini cukup beralasan karena sikap hidup orang Dayak terlalu polos menghadapi serangan-serangan diplomatis, baik oleh kaumnya sendiri maupun oleh ‘orang lain’. Sikap polos itu yang mestinya dikonversikan menjadi gerakan politik masyarakat Dayak dalam membangun aliansi sekaligus dalam memperjuangkan hak-hak yang dijanjikan oleh negeri ini (Indonesia)—bukan malah menjadi celah untuk memanfaatkan orang Dayak secara tidak bertanggung jawab.

Berbekal semangat warisan tradisi ini, saya mencoba menawarkan kehidupan sosial dan politik masyarakat Dayak akan mampu melewati pola gerakan politik pra modern dan modern. Pola gerakan politik masyarakat Dayak tidak lagi sekedar untuk perampasan dan pembagian kekuasaan, tetapi lebih pada politik kebudayaan, kepemilikan atas hak-hak sosial dan otonomi, serta kebebasan berekspresi dan berbudaya. [5] Dengan mengutamakan toleransi serta mengedepankan ruang dialog sebagai konsensus, harapannya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial dan politik orang Dayak secara substansial. Hal ini bisa tercapai apabila gerakan politik dibangun dari akar rumput dengan berpedoman pada semangat warisan tradisi yang arif, hegemoni serta atas kesadaran diri tanpa intervensi. Namun jangan melihat ini sebagai penawaran yang normatif, tetapi lebih pada alternatif dalam menjawab kompleksnya persoalan di dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat Dayak saat ini yang saya rasa cukup mengikis rasa optimisme kita.

Kita berpijak pada konsep kualitas sosial dan politik orang Dayak, dan bukan soal kuantitas semata. Bila menginginkan kualitas yang baik, semestinya harus ada kontrol dari yang berkualitas baik pula. Ini mengisyaratkan suatu gerakan yang berorientasi pada kualitas dimana indikatornya terletak pada relasi yang dibangun dalam mobilisasi politik masyarakat Dayak, partisipasi politiknya, dan kontribusi dari keduanya. Puncaknya adalah, sebuah pola baru yang lebih sopan, ketika keterlibatan politik masyarakat Dayak ikut serta sebagai subjek dalam membangun peradaban kaum ini, dan sudah seharusnya menjadi kemutlakkan.




[1] Lihat Maunati, Yekti. 2004. Identitas Dayak; Komodifikasi & Politik Kebuadayaan. (Terjemahan oleh Eri S. El Khatab). Yogyakarta: LkiS Yogyakarta
[2] Elite yang Dimaksud lebih berkonotasi sebagai elite politik dan birokrat-birokrat orang Dayak.
[3] Baca Simon, Roger. 1999. Gagasan-gasan Politik Gramsci tentang Watak kekuasaan.
[4] Baca Francis Wahono Nitiprawiro tentang praksis teologi pembebasan yang mencontohkan pada kasus masyarakat Dayak kalimantan.
[5] Dalam kasus ini, wacana gerakan sosial politik didasarkan atas pengamatan Van Beyme tentang tujuan yang ingin dicapai melalui gerakan politik tersebut mulai dari era pra modern, modern, sampai postmodern (Lebih rinci lihat Abdilah S., Ubed. 2002. Politik Identitas; Pergulatan tanda Tanpa Identitas. Magelang: IndonesiaTera.)


DAFTAR PUSTAKA
Abdilah S., Ubed,  dkk (Ed.). 2002. Politik Identitas Etnik; Pergulatan Tanda Tanpa Identitas. Magelang: IndonesiaTera.
Heck, Marina Camargo. 1980. “Dimensi Ideologis Pesan-pesan Media”. Dalam Budaya, Media, Bahasa. Stuart Hall dkk (Ed.). Terjemahan oleh Saleh Rahmana. Editor edisi Bahas Indonesia Maryam Bagus. Yogyakarta: Jalasutra (Anggota IKAPI).
Maunati, Yekti. 2004. Identitas Dayak: Komodifikasi & Politik Kebudayaan. Terjemahan oleh Eri Setyawati el-Khatab. Editor edisi Bahasa Indonesia Nor ismah. Yogyakarta: LkiS.
Nitiprawiro, Francis Wahono. 2000. Teologi Pembebasan; Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya. Yogyakarta: LkiS.
Simon, Roger. 1999. Gagasan-gagasan Politik Gramsci. Terjemahan oleh Kamdani & Imam Behaqi. Yogyakarta: INSIST bekerjasama dengan Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI).

Komentar

Postingan Populer