Pantak Sekber

Bertopang Dagu—Merenung—Berpikir

Jam menunjukkan pukul 18.58 WIB, dan ada beberapa orang sudah menunggu di situ, sebuah area populer di Asrama J.C. Oevaang Oeraay. Di ujung sebelum lorong selatan asrama ada sebuah tampanmeter—meminjam istilah saudara—alat untuk mengukur ketampanan (cermin). Bila menghadap ke selatan, dan melihat agak ke kanan, nah....di situ ada pohon belimbing kebanggaan beberapa penghuni asrama yang sekarang sedang mencoba belajar menjadi intelek-intelek muda. Walaupun (mohon maaf), biasa disebut oleh kawan-kawan sebagai mahasiswa angkatan tua. Muda tapi Tua. Namun bukan itu yang ingin coba kita renungkan dan kita pikirkan. Lalu apa ?

Foto: SEKBERIAN sedang berpose bersama Pantak di Asrama J.C. Ovaang Oeray Yogyakarta

Episode #1 Bertopang Dagu

Kopi sudah hampir habis, minuman lain sudah tersedia, bahkan dengan seloki kecilnya. Ada freshtea madu di meja, sementara pasangannya sudah di dalam teko dengan aroma yang khas dan agak menyengat. Kopi habis dan oplosan itu mulai dijalankan memutar searah jarum jam, masing-masing dapat jatah setengah seloki kecil setiap putaran. Yang tadi masih betopang dagu mulai terlihat membusungkan dada dan berbicara. Pembicaraan itu semakin menarik saja, karena sama halnya dengan yang diminum, tema obrolan juga oplosan. Mulai dari kasus bunuh diri anak, kasus penembakan senapan angin, turunnya minat diskusi mahasiswa, pemilihan Ketua Sekber, sampai pemilihan Presiden. Itulah kira-kira tema yang masih sempat diingat. Sementara tema yang paling panjang dibicarakan adalah mengenai minat mahassiwa berdiskusi tentang persoalan sosial, politik, pembangunan, seni budaya, adat istiadat, kesehatan, perempuan dan sebagainnya yang semakin menurun. Sebut saja di sini istilahnya “Diskusi Sombong”. Emang kenapa disebut “Diskusi Sombong” ? Mari kita merenungkannya !

Episode #2 Merenung

Diskusi Sombong muncul karena didasarkan hasil surveinya Cak Klin, bahwa apabila beberapa mahasiswa daerah berkumpul dan berdiskusi membicarakan tema-tema sosial, politik, ekonomi, pembangunan, dan lain-lain, akan banyak mahasiswa lain mempersepsikan itu sombong. Jadi, renungan kita kali ini, pertama mahasiswa yang senang dengan Diskusi Sombong, dan kedua mahasiswa yang kontras dengan itu.

Dikusi Sombong secara langsung mungkin tidak akan menyebabkan kanker, serangan jantung, impontensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Namun jika iya, terjadi karena secara tidak langsung dan tak disengaja—maklum ketika diskusi banyak yang senang merokok. Kembali ke tema renungan, Diskusi Sombong nggak bakalan bikin kita sombong kok, jadi jangan takut terlibat di dalamnya. Filosofi lain dari Diskusi Sombong ini adalah antitesisnya, yaitu membicarakan orang-orang sombong, bukan belajar untuk jadi orang sombong. Renungkan, bahwa siapa yang lebih sombong, apakah mereka yang terlibat di dalam Diskusi Sombong untuk saling belajar berpendapat, berbagi pengetahuan, belajar mengkritisi, melengkapi peran sebagai sorang mahasiswa (walau angkatan tua), dan lain-lain? Atau, mereka yang tidak resah akan persoalan-persoalan sosial, politik, ekonomi, pembangunan dan sebagainya, sementara mereka hidup di dalamnya, dan seolah semua akan baik-baik saja? Satu kalimat yang cocok untuk renungan penting di sini, mengutip Eros Candra lewat liriknya lagu Jagostu, “terlalu lama terisolasi tradisi, butakan prediksi hari nanti”.

Episode #3 Berpikir

Bila di episode sebelumnya kita mau merenungkan, sudah saatnya kita berpikir. Filsuf terkenal pernah bilang, “Aku berpikir, maka aku ada”. Berpikir juga baik kok buat kesehatan jasmani dan rohani. Lalu apa hubungannya ? Simpulkan dan cari saja hubungannya masing-masing. Caranya ? Ya...berpikir. Masih bingung ? Kalau masih bingung, ditinggal saja dan berpikir untuk mencari cara bagaimana berpikir. Tambah bingung ? Itu baru kern, karena ciri-ciri orang berpikir adalah bingung, kalau nggak berpikir pasti nggak bakalan bingung. Boleh dicoba!!!

Pesannya adalah, dengan berpikir kita akan sangat terlihat berbeda dibandingkan Pantak milik Sekber yang terikat di pohon belimbing dekat WC itu. Kita boleh saja bertopang dagu dan terlihat merenung, tapi mestinya disertai dengan berpikir. Dan menurut seorang kawan yang sedang mendalami Psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta berinisial B, hasil berpikir itu baikknya kita tuangkan, salah satunya melalui diskusi. Diskusi Sombong. Akhir kata, jangan takut untuk bingung, jangan takut untuk berpikir, karena bingung dan berpikir belum tentu menakut-nakuti kita.


Hampir diterbitkan di BETANG Newspaper edisi Coba-coba
#KuasKisah Fornestor Mindaw 2014

Komentar

Postingan Populer