
Pagi yang cerah
dengan bias warna segar mengiringi terbitnya matahari di ufuk timur. Aktifitas masyarakat dimulai
sudah beberapa jam sebelumnya. Bercak embun melekat dan bertebaran dimana-mana
di seluruh wilayah Jogja. Kesibukan
terlihat di hampir setiap ruang kota. Ada yang berangkat kuliah, pergi ke
sekolah, mengatur lalu lintas, sibuk bertransaksi di pasar, ada juga yang
mungkin masih terlelap dalam tidur dan sebagainya. Sekali lagi, pagi yang cerah,
dan kopi hitam manis agak kepahit-pahitan stay
di depan meja yang ada di warung burjo
(bubur kacang ijo) “Aak Danang” langgananku. Aku bersiap-siap untuk kuliah pak
Nindito yang mengajar mata kuliah Teknologi dan Perubahan Sosial. Setelah
menyelesaikan ritual minum kopiku, membayar dengan uang perak Rp 1.500,- aku menarik gas motor
butut bermasalahku untuk pergi ke kampus. Di perjalanan aku sempat melihat ada
sekelompok pemuda yang sedang berjalan kaki, dan sepertinya mereka juga akan
pergi ke kampus sama sepertiku. Tidak terlalu kuhiraukan mereka.
Tiga kali lima
puluh menit berlalu, 3 SKS selesai sudah dan kuliah berakhir. Setelah selesai, seperti biasanya
aku dan teman-teman nongkrong di angkringan depan kampus kami. Angkringan adalah warung makan yang memanfaatkan
gerobak dorong untuk tempat berjual berbagai makanan dan minuman yang sederhana. Yang dijual di
situ biasanya nasi “kucing”, gorengan, kopi, es teh, kerupuk, rokok eceran, dan
lain-lain. Waktu nongkrong biasa kami gunakan untuk makan, minum, dan
berdiskusi tentang banyak hal yang tidak jelas arahnya ke mana. Menu makanku seperti biasa, yaitu dua
bungkus nasi “kucing” dengan dua gorengan tempe dan disempurnakan oleh es teh
untuk minum. Kalau kita total harganya Rp 4.000,00
dan itu sudah sangat kenyang untuk ukuran perutku.
Ketika lagi
asik-asiknya ngobrol, tiba-tiba ada orang menepuk bahuku dari belakang. Saat aku
menoleh, ternyata yang menepuk bahuku adalah salah satu pemuda yang tadi pagi
aku lihat sedang berjalan di trotoar. Ternyata dia menyerahkan bundelan kertas
berisi catatan kuliahku yang lain. Rupanya kertas tersebut tercecer ketika aku
melaju dengan sepeda motor bututku tadi pagi. Aku berterima kasih dan sempat berbincang-bincang
ringan dengannya. Dari pembicaraan itu aku mengetahui bahwa ternyata angkringan
tersebut adalah angkringan langganannya juga. Dia juga sempat bercerita kalau
sebagian besar uang kiriman buat makannya dia habiskan di angkringan tersebut.
Aku mengira-ngira dalam satu bulan uang makannya sekitar Rp 300.000,00 sampai dengan Rp
400.000,00.
Dengan ramah dia pamitan untuk melanjutkan kuliah sesi berikutnya, sedangkan
kami masih nongkrong di angkringan tersebut sampai pukul 11.30 sebelum akhirnya
kami pulang.
Dari cerita pengalaman
tersebut ada beberapa pesan yang ingin aku sampaikan. Pertama, Jogja sebagai kota
pendidikan bisa mengikat solidaritas mekanis masyarakat yang tinggal di
dalamnya. Artinya, tanpa memandang latar belakang orang bisa berkumpul dan
saling berinteraksi satu sama lain di berbagai tempat dengan modal solidaritas.
Kedua, sebagai kota pelajar atau mahasiswa, biaya hidup di Jogja tergolong
sangat murah. Bahkan sampai ruang-ruang publik untuk hiburan saat melepas penat
setelah melakukan berbagai kesibukan pun sangat mudah dijangkau dan murah. Secara
konseptual, Jogja yang merupakan kota pendiikan, kota pelajar/mahasiswa, kota
budaya, kota pariwisata dan lain sebagainya merupakan kota yang ideal untuk
menuntut ilmu.
Banyak pilihan Perguruan Tinggi yang
ada di Jogja, di mana terdapat tiga Perguruan Tinggi Negeri dan ratusan Perguruan
Tinggi Swasta lainnya. Tentu saja ini dengan berbagai pilihan program studi dan
biaya yang beragam, mulai dari yang murah sampai dengan yang tinggi. Ditunjang dengan biaya hidup murah, kota yang tenang, ditambah lagi dengan budaya saling
menghargai dengan ikatan solidaritas yang tinggi akan menjadikan Jogja pilihan
yang ideal untuk melanjutkan studi di tingkat pendidikan tinggi. Selain itu,
tidak menutup kemungkinan, di samping kuliah kita juga bisa melakukan berbagai
kegiatan yang positif untuk menambah pengalaman yang belum tentu kita dapatkan di
tempat lain. Kita juga akan bisa saling berdialog dan berbagi cerita dengan
kawan-kawan mulai dari Sabang sampai Merauke. Beruntungnya aku bisa kuliah di
Jogja dengan segala keterbatasanku.

Komentar