Alam, Filsafat dan Kehidupan

Tulisan ini bukanlah kajian ilmiah !!!

Prolog

Di dalamnya terdapat ketenangan, kebebasan dan kedamaian. Tidak ada kepalsuan dan rekayasa, tidak ada kebusukan dan kemunafikan, tidak ada yang saling menipu, yang ada hanya senandung tentang kepuasan batin. Begitulah kira-kira yang bisa saya rasa dan dapatkan dari alam, yaitu alam yang nyata dan keberadaannya benar-benar bisa untuk dirasakan oleh indera kita sebagai manusia. Saat kita mengarungi alam, yakinlah bahwa kebenaran yang akan kita dapat. Alam tidak mungkin untuk berbohong, alam selalu memberikan sesuatu sesuai apa yang ditakdirkan padanya. Sehingga dengan memahami alam maka kita juga akan mehami filsafat dalam kehidupan ini, karena alam selalu hadir dan mengabdikan dirinya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selain ada ketenangan, kebebasan dan kedamaian, mungkin ada beberapa hal yang dipandang kontradiksi dengan ketiga hal tersebut. Misalnya saja, dapat kita temukan banyak tantangan yang begitu sulitnya dalam mengarungi alam itu sendiri. Namun begitu menyedihkan lagi apabila kita membiarkan perjalanan untuk mengarungi alam itu harus terbunuh oleh tolak ukur masyarakat normal itu. Karena perjalanan merupakan awal suatu pencarian, pencarian adalah upaya untuk menemukan, dan penemuan adalah hal yang menjadi tujuan. Di antara banyak perjalanan, pencarian dan penemuan, akan selalu ada pengalaman, maka teruslah berjalan, mencari dan menemukan, begitulah kira-kira kata-kata bijak yang pernah saya dengar selama ini.

Pesona alam di wilayah Sungai Laur, Kabuapten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia.
Foto: Fornestor Mindaw
Sebagai contoh, memang hidup terasa normal-normal saja menurut diri sendiri tetapi mungkin dipandang gila oleh masyarakat dengan standar modern apabila kita mencoba hidup seperti John McCandles misalnya. Yang rela meniggalkan kehidupannya yang penuh dengan keamanan palsu orang tua, kemewahan dan kelimpahan materi duniawi untuk hidup di alam yang buas demi untuk mendapatkan kebebasan mutlak. McCandles juga selalu mengukur dirinya dan semua yang ada di sekitarnya dengan nilai moral yang ketat dan keras. Namun begitulah adanya sebuah pilihan dan prinsip, tanpa harus memperdulikan pandangan dan pendapat orang lain, kita harus terus berjalan, dengan catatan, apa yang kita jalani itu tidak melanggar dan merampas hak orang lain.
Maka seyogyanya, manusia tidak pernah bisa untuk terpisah dengan alam. Karl Marx sendiri, dalam bukunya yang berjudul Economic and Philosophic Manuscripts of 1844, mengatakan bahwa:

“Alam merupakan tubuh inorganik. Manusia hidup di alam, alam adalah tubuhnya, ia harus tetap berhubungan timbal-balik secara terus-menerus dengannya jika ia tidak ingin mati. Bahwa kehidupan fisik dan spiritual manusia terikat dengan alam semata-mata mengandung arti bahwa alam terikat dengan dirinya sendiri (manusia), karena manusia merupakan bagian darinya (alam).”

Pandangan Marx ini menyatakan, pertama-tama, bahwa tidak ada pemisahan antara manusia dengan alam. Keduanya merupakan bagian satu sama lain: dua kutub yang bertentangan, yang mengandung arti bahwa mustahil untuk mendefinisikan salah satu tanpa hubungannya dengan yang satunya. Sesungguhnya, keduanya merupakan bagian satu sama lain: sesuatu yang dilakukan manusia itu alamiah, sedangkan alam merupakan produk sosial (Pepper, 1993: 107).

Dengan melihat pendapat Marx ataupun analisis Pepper terhadap pendapat Marx itu sendiri, kita dapat memahami betapa pentingnya alam bagi manusia. Ada relasi ataupun interaksi yang terjalin antara manusia dengan alam. Mungkin selama ini kita lebih mengenal istilah interaksi antar individu, individu dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat. Jelas bahwa dalam masyarakat terdapat individu, dan individu itu sendiri adalah manusia. Jadi intinya, yang berinteraksi atau berhubungan ataupun berelasi tersebut hanya manusia satu dengan manusia lainnya. Lalu di mana letak hubungan manusia dengan alam tersebut ? Inilah yang akan saya uraikan di sini, yaitu hubungan antara manusia dengan alam atau sebaliknya. Dari hubungan keduanya itulah kita akan memahami salah satu sisi atau bentuk filsafat dalam kehidupan ini. Maka, saya membatasi penjelasan dan pandangan saya mengenai filsafat dalam kehidupan sehari-hari hanya pada satu aspek yaitu tentang hubungan manusia dengan alam. Untuk itu, marilah kita mulai menggali filsafat itu melalui alam, memahami filsafat dalam kehidupan ini dari alam !

Apa itu Alam ?

Saat orang ingin mulai memahami filsafat (dalam kehidupan), tentu saja orang tersebut harus memiliki sikap skeptis. Artinya, harus membiarkan diri masuk ke dalam keraguan akan sesuatu ataupun pengetahuan, yaitu sikap yang selalu mempertanyakan kemungkinan pencapaian segala jenis pengetahuan. Dengan cara itulah, Socrates yang hidup lebih dari dua ribu tahun yang lalu pergi ke pasar, jalan-jalan, dan ke berbagai tempat untuk berbicara dengan orang-orang. Ia mengajak mereka mempertanyakan berbagai hal yang membantu mereka untuk menemukan kebenaran sejati. Sehingga kebenaran itu dapat ditemukan oleh setiap orang, asal ia mau bertanya dan bertanya. Dengan mewarisi sikap skeptis Socrates itulah, maka kita akan menemukan jawaban mengenai apa itu alam.

Menurut pandangan subyektif saya tentang alam, yaitu merupakan tempat dimana manusia dan mhkluk lainnya, baik yang disebut dengan mahkluk hidup maupun benda mati berada, dan tentunya ini lebih mengarah pada konsep tempat tinggal. Dari alam kita bisa medapati unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lain dan dari unsur yang berkaitan itu akan membentuk yang namanya alam. Adapun unsur-unsur itu di antaranya, seperti tanah, air, angin, udara, terang, gelap, dan tentunya apabila kita sebutkan satu per satu akan lebih kompleks dan terlau luas. Pada intinya, dunia yang kita diami sekarang, tempat dimana kita mendirikan rumah, toko, pabrik, jalan, pelabuhan, serta bentuk konstruksi-konstruksi yang lainnya. Sekedar melengkapi deskripsi tentang apa itu alam mari kita lihat pernyataan Lord Byron yang dirasakannya terhadap alam berikut:

“Ada kesenangan dalam hutan tanpa jalan setapak ; Ada keceriaan di pantai yang sepi ; Ada masyarakat yang tidak saling mengganggu, di dekat laut yang dalam, dan musik dalam ruangannya : Aku mencintai manusia tapi lebih suka alam.”

Setelah kita mengerti, paling tidak tahu gambaran alam itu seperti apa, alangkah baiknya kita juga mau untuk lebih mengerti apa yang terbaik yang bisa kita beri kepada alam. Dengan memberi yang terbaik bagi alam, tentu kita juga akan memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri. Sebab sudah cukup jelas bahwa alam merupakan tempat dimana kita tinggal, atau menurut Lord Byron tadi, ada kesenangan, keceriaan, dan ketentraman di situ. Alam juga merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita, ibarat dua sisi mata uang logam yang saling melengkapi.

Memahami Filsafat lewat Alam

Secara terminologis menurut pendapat para ahli, filsafat adalah segala yang ada (Plato), usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan (Harlod H. Titus), penjelasan yang rasional dari segala yang ada; penjajakan (upaya) terhadap realitas yang terakhir (James K. Feibleman), dan juga meneliti hubungan antara kemanusian dengan alam. Lalu bagaimana memahami filsafat lewat alam ? Atau di mana letak filsafat itu terhadap alam ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu kita harus masuk ke dalam sebuah perspektif yang integratif terhadap alam itu sendiri.

Mungkin dipandang kuno saat kita harus memahami filsafat lewat alam, sementara saat ini kita melihat kemajuan ilmu dan teknologi yang begitu pesatnya. Pertanyaannya, mengapa saya tidak memahami filsafat lewat teknologi saja ? Untuk itu saya tidak akan menjawabnya, melainkan balik bertanya. Pernahkah kita menyadari bahwa kemajuan teknologi mungkin akan membuat ancaman mekanisasi dunia menuju virtualisasi dunia ? Maka, dari rasa takut akan ancaman itulah saya lebih suka melihat dan memahami filsafat lewat alam. Selain alasan itu, alasan yang lainnya adalah dimana alam saat ini benar-benar telah menuju jurang kehancuran yang sangat luar biasa akibat dari pembangunan yang tidak diimbangi dengan pelestarian lingkungan.

Filsafat sendiri berasal dari kata Philosophia (Yunani) atau sama artinya dengan cinta kebijaksanaan/Love of Wisdom. Lewat alam kita memahami filsafat juga dapat diartikan sebagai pemahaman akan kebijaksanaan melaluli media, dan media itu adalah alam. Arti lain juga menjelaskan usaha untuk menemukan asal-usul kebenaran dan pengetahuan untuk menemukan nilai dasar dan kepentingannya bagi kehidupan. Masih dalam konteks yang sama, dari alam kita akan menemukan nilai dasar serta kepentingan itu bagi kehidupan kita sebagai mahkluk hidup sekaligus sebagai manusia.

Epilog: Alam merupakan Bagian dari Kehidupan

Seperti yang telah dikatakan di awal bahwa manusia yang hidup di dunia yang penuh dengan misteri ini tidak bisa dipisahkan dari alam. Sehingga wajar apabila alam merupakan bagian dari kehidupan kita. Oleh sebab itu, kita perlu mengubah sikap dan hubungan kita dengan alam yang merupakan ibu yang memberi kita lingkungan kehidupan yang begitu kaya dan indahnya. Karena sepertinya secara perlahan kita sudah mulai membuat jarak dengan alam. Terlihat saat manusia yang hidup dalam arus global dan modern ini sudah tidak perduli lagi akan lingkungan. Dan dengan tidak amu mengalah, alam balas dendam dengan caranya sendiri, untuk di Indonesia, sering dilanda banjir, sementara yang bisa kita lihat secara menyeluruh (internasional), naiknya suhu bumi, dan masih banyak lagi bentuk bencana-bencana lain yang mulai bermunculan.

Bercocok tanam merupakan salah satu pekerjaan yang masih populer juga kian terkikis di kalangan masyarakat Dayak Laor.
Foro: Fornestor Mindaw - Model: Aan Dima
Tentu saja kita tidak ingin segala kemungkinan yang lebih buruk lagi terjadi dalam kehidupan ini. Hidup di dunia ini memang selalu dituntut untuk mencari kekayaan materi, tetapi yang terpenting adalah nilai dasar yang ada dalam diri setiap orang harus menjadi kebutuhan yang utama. Moral yang sehat akan membuat kita untuk menjalani hidup dengan lebih berarti, tanpa harus berbuat yang dikatakan menyimpang lebih jauh dari etika kita sebagai manusia. Apabila kita kaitkan dengan alam, ada baiknya apabila kita lebih menyadari bahwa di setiap kita benrnafas, saat kaki kita melangkah, dan di saat kita senang dan sedih sekalipun alam akan selalu hadir untuk memberi ruang untuk kita berekspresi. Alam menyediakan udara, alam juga menyediakan tempat bagi kita, bahkan saat ia harus dirusak demi kebutuhan hidup manusiapun, alam membiarkan itu semua. Memang alam bukan mahkluk hidup seperti kita, tapi secara tidak sadar alam tidak kalah miripnya seperti manusia, ia bisa menerima, bisa memberi, bahkan juga bisa bertindak. Selain itu, alam juga mencoba menjalin hubungan dengan kita, tapi sayangnya banyak orang yang hanya mengetahui keberadaannya saja, tapi tidak sadar bahwa alam juga harus dimengerti dan dipahami. Oleh karena itulah alam merupakan bagian dari hidup kita yang sampai kapanpun tidak pernah bisa untuk dipisahkan.

Sebagai bentuk penghargaan kita terhadap alam yang selamanya menjadi bagian dari hidup kita itu, sudah seharusnya alam atau lingkungan yang ada mulai diperhatikan lagi. Jika kita dapat mengembangkan sikap dan perasaan seperti itu, maka barulah kita dapat menyusun kembali hubungan kita dengan alam, dan tentunya alam itu sendiri akan benar-benar bisa kita rasakan sebagai bagian dari kehidupan kita di bumi ini. Bagian yang sebenarnya sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia dan mahkluk hidup lainnya.
Pada intinya hal ini sangat sederhana, dengan lebih mencintai alam, tentunya kita akan bersentuhan dengan alam itu sendiri. Dari persentuhan kita dengan alam itulah akan tercipta keharmonisan dalam hubungan kita dengan alam. Kemudian dari hubungan itu kita akan mampu memahami alam lebih jauh lagi. Sehingga, kembali pada topik ini, dengan memahami alam, tentunya kita juga mampu untuk memahami filsafat dalamkehidupan ini. Lalu dari mana memahaminya ? Ya, dari hubungan manusia dengan alam tadi.

Akhir kata, sesuai dengan apa yang telah menjadi dasar tulisan ini, yang saya pahami tentang filsafat dalam kehidupan ini salah satunya terletak pada hubungan manusia dengan alam, dan itulah yang sangat menarik perhatian saya selama ini.

Foto Penulis sedang berpose bersama sang adik di Desa Sepotong



Komentar

Postingan Populer