Alam, Filsafat dan Kehidupan
Tulisan ini bukanlah kajian ilmiah !!!
Prolog
Di
dalamnya terdapat ketenangan, kebebasan dan kedamaian. Tidak ada kepalsuan dan
rekayasa, tidak ada kebusukan dan kemunafikan, tidak ada yang saling menipu,
yang ada hanya senandung tentang kepuasan batin. Begitulah kira-kira yang bisa
saya rasa dan dapatkan dari alam, yaitu alam yang nyata dan keberadaannya
benar-benar bisa untuk dirasakan oleh indera kita sebagai manusia. Saat kita
mengarungi alam, yakinlah bahwa kebenaran yang akan kita dapat. Alam tidak
mungkin untuk berbohong, alam selalu memberikan sesuatu sesuai apa yang
ditakdirkan padanya. Sehingga dengan memahami alam maka kita juga akan mehami
filsafat dalam kehidupan ini, karena alam selalu hadir dan mengabdikan dirinya
dalam kehidupan kita sehari-hari.
Selain
ada ketenangan, kebebasan dan kedamaian, mungkin ada beberapa hal yang
dipandang kontradiksi dengan ketiga hal tersebut. Misalnya saja, dapat kita
temukan banyak tantangan yang begitu sulitnya dalam mengarungi alam itu
sendiri. Namun begitu menyedihkan lagi apabila kita membiarkan perjalanan untuk
mengarungi alam itu harus terbunuh oleh tolak ukur masyarakat normal itu.
Karena perjalanan merupakan awal suatu pencarian, pencarian adalah upaya untuk
menemukan, dan penemuan adalah hal yang menjadi tujuan. Di antara banyak
perjalanan, pencarian dan penemuan, akan selalu ada pengalaman, maka teruslah
berjalan, mencari dan menemukan, begitulah kira-kira kata-kata bijak yang
pernah saya dengar selama ini.
| Pesona alam di wilayah Sungai Laur, Kabuapten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia. Foto: Fornestor Mindaw |
Maka
seyogyanya, manusia tidak pernah bisa untuk terpisah dengan alam. Karl Marx
sendiri, dalam bukunya yang berjudul Economic
and Philosophic Manuscripts of 1844, mengatakan bahwa:
“Alam
merupakan tubuh inorganik. Manusia hidup di alam, alam adalah tubuhnya, ia
harus tetap berhubungan timbal-balik secara terus-menerus dengannya jika ia
tidak ingin mati. Bahwa kehidupan fisik dan spiritual manusia terikat dengan
alam semata-mata mengandung arti bahwa alam terikat dengan dirinya sendiri (manusia),
karena manusia merupakan bagian darinya (alam).”
Pandangan
Marx ini menyatakan, pertama-tama, bahwa tidak ada pemisahan antara manusia
dengan alam. Keduanya merupakan bagian satu sama lain: dua kutub yang
bertentangan, yang mengandung arti bahwa mustahil untuk mendefinisikan salah
satu tanpa hubungannya dengan yang satunya. Sesungguhnya, keduanya merupakan
bagian satu sama lain: sesuatu yang dilakukan manusia itu alamiah, sedangkan
alam merupakan produk sosial (Pepper, 1993: 107).
Dengan
melihat pendapat Marx ataupun analisis Pepper terhadap pendapat Marx itu
sendiri, kita dapat memahami betapa pentingnya alam bagi manusia. Ada relasi
ataupun interaksi yang terjalin antara manusia dengan alam. Mungkin selama ini
kita lebih mengenal istilah interaksi antar individu, individu dengan
masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat. Jelas bahwa dalam masyarakat
terdapat individu, dan individu itu sendiri adalah manusia. Jadi intinya, yang
berinteraksi atau berhubungan ataupun berelasi tersebut hanya manusia satu
dengan manusia lainnya. Lalu di mana letak hubungan manusia dengan alam
tersebut ? Inilah yang akan saya uraikan di sini, yaitu hubungan antara manusia
dengan alam atau sebaliknya. Dari hubungan keduanya itulah kita akan memahami
salah satu sisi atau bentuk filsafat dalam kehidupan ini. Maka, saya membatasi
penjelasan dan pandangan saya mengenai filsafat dalam kehidupan sehari-hari
hanya pada satu aspek yaitu tentang hubungan manusia dengan alam. Untuk itu,
marilah kita mulai menggali filsafat itu melalui alam, memahami filsafat dalam
kehidupan ini dari alam !
Apa itu Alam ?
Saat
orang ingin mulai memahami filsafat (dalam kehidupan), tentu saja orang
tersebut harus memiliki sikap skeptis. Artinya, harus membiarkan diri masuk ke
dalam keraguan akan sesuatu ataupun pengetahuan, yaitu sikap yang selalu
mempertanyakan kemungkinan pencapaian segala jenis pengetahuan. Dengan cara itulah,
Socrates yang hidup lebih dari dua ribu tahun yang lalu pergi ke pasar,
jalan-jalan, dan ke berbagai tempat untuk berbicara dengan orang-orang. Ia
mengajak mereka mempertanyakan berbagai hal yang membantu mereka untuk
menemukan kebenaran sejati. Sehingga kebenaran itu dapat ditemukan oleh setiap
orang, asal ia mau bertanya dan bertanya. Dengan mewarisi sikap skeptis
Socrates itulah, maka kita akan menemukan jawaban mengenai apa itu alam.
Menurut
pandangan subyektif saya tentang alam, yaitu merupakan tempat dimana manusia
dan mhkluk lainnya, baik yang disebut dengan mahkluk hidup maupun benda mati
berada, dan tentunya ini lebih mengarah pada konsep tempat tinggal. Dari alam
kita bisa medapati unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lain dan dari
unsur yang berkaitan itu akan membentuk yang namanya alam. Adapun unsur-unsur
itu di antaranya, seperti tanah, air, angin, udara, terang, gelap, dan tentunya
apabila kita sebutkan satu per satu akan lebih kompleks dan terlau luas. Pada
intinya, dunia yang kita diami sekarang, tempat dimana kita mendirikan rumah,
toko, pabrik, jalan, pelabuhan, serta bentuk konstruksi-konstruksi yang lainnya.
Sekedar melengkapi deskripsi tentang apa itu alam mari kita lihat pernyataan
Lord Byron yang dirasakannya terhadap alam berikut:
“Ada
kesenangan dalam hutan tanpa jalan setapak ; Ada keceriaan di pantai yang sepi
; Ada masyarakat yang tidak saling mengganggu, di dekat laut yang dalam, dan
musik dalam ruangannya : Aku mencintai manusia tapi lebih suka alam.”
Setelah
kita mengerti, paling tidak tahu gambaran alam itu seperti apa, alangkah
baiknya kita juga mau untuk lebih mengerti apa yang terbaik yang bisa kita beri
kepada alam. Dengan memberi yang terbaik bagi alam, tentu kita juga akan
memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri. Sebab sudah cukup jelas bahwa
alam merupakan tempat dimana kita tinggal, atau menurut Lord Byron tadi, ada
kesenangan, keceriaan, dan ketentraman di situ. Alam juga merupakan sesuatu hal
yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita, ibarat dua sisi mata uang logam
yang saling melengkapi.
Memahami Filsafat lewat Alam
Secara terminologis menurut
pendapat para ahli, filsafat adalah segala yang ada (Plato), usaha untuk
mendapatkan gambaran keseluruhan (Harlod H. Titus), penjelasan yang rasional
dari segala yang ada; penjajakan (upaya) terhadap realitas yang terakhir (James
K. Feibleman), dan juga meneliti hubungan antara kemanusian dengan alam. Lalu
bagaimana memahami filsafat lewat alam ? Atau di mana letak filsafat itu
terhadap alam ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu kita harus masuk ke
dalam sebuah perspektif yang integratif terhadap alam itu sendiri.
Mungkin dipandang kuno saat
kita harus memahami filsafat lewat alam, sementara saat ini kita melihat kemajuan
ilmu dan teknologi yang begitu pesatnya. Pertanyaannya, mengapa saya tidak
memahami filsafat lewat teknologi saja ? Untuk itu saya tidak akan menjawabnya,
melainkan balik bertanya. Pernahkah kita menyadari bahwa kemajuan teknologi
mungkin akan membuat ancaman mekanisasi dunia menuju virtualisasi dunia ? Maka,
dari rasa takut akan ancaman itulah saya lebih suka melihat dan memahami
filsafat lewat alam. Selain alasan itu, alasan yang lainnya adalah dimana alam
saat ini benar-benar telah menuju jurang kehancuran yang sangat luar biasa
akibat dari pembangunan yang tidak diimbangi dengan pelestarian lingkungan.
Filsafat sendiri berasal
dari kata Philosophia (Yunani) atau
sama artinya dengan cinta kebijaksanaan/Love
of Wisdom. Lewat alam kita memahami filsafat juga dapat diartikan sebagai pemahaman
akan kebijaksanaan melaluli media, dan media itu adalah alam. Arti lain juga
menjelaskan usaha untuk menemukan asal-usul kebenaran dan pengetahuan untuk
menemukan nilai dasar dan kepentingannya bagi kehidupan. Masih dalam konteks
yang sama, dari alam kita akan menemukan nilai dasar serta kepentingan itu bagi
kehidupan kita sebagai mahkluk hidup sekaligus sebagai manusia.
Epilog: Alam
merupakan Bagian dari Kehidupan
Seperti yang telah
dikatakan di awal bahwa manusia yang hidup di dunia yang penuh dengan misteri
ini tidak bisa dipisahkan dari alam. Sehingga wajar apabila alam merupakan
bagian dari kehidupan kita. Oleh sebab itu, kita perlu mengubah sikap dan
hubungan kita dengan alam yang merupakan ibu yang memberi kita lingkungan
kehidupan yang begitu kaya dan indahnya. Karena sepertinya secara perlahan kita
sudah mulai membuat jarak dengan alam. Terlihat saat manusia yang hidup dalam
arus global dan modern ini sudah tidak perduli lagi akan lingkungan. Dan dengan
tidak amu mengalah, alam balas dendam dengan caranya sendiri, untuk di
Indonesia, sering dilanda banjir, sementara yang bisa kita lihat secara
menyeluruh (internasional), naiknya suhu bumi, dan masih banyak lagi bentuk
bencana-bencana lain yang mulai bermunculan.
| Bercocok tanam merupakan salah satu pekerjaan yang masih populer juga kian terkikis di kalangan masyarakat Dayak Laor. Foro: Fornestor Mindaw - Model: Aan Dima |
Sebagai bentuk penghargaan
kita terhadap alam yang selamanya menjadi bagian dari hidup kita itu, sudah
seharusnya alam atau lingkungan yang ada mulai diperhatikan lagi. Jika kita
dapat mengembangkan sikap dan perasaan seperti itu, maka barulah kita dapat
menyusun kembali hubungan kita dengan alam, dan tentunya alam itu sendiri akan
benar-benar bisa kita rasakan sebagai bagian dari kehidupan kita di bumi ini.
Bagian yang sebenarnya sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia dan
mahkluk hidup lainnya.
Pada intinya hal ini sangat
sederhana, dengan lebih mencintai alam, tentunya kita akan bersentuhan dengan
alam itu sendiri. Dari persentuhan kita dengan alam itulah akan tercipta
keharmonisan dalam hubungan kita dengan alam. Kemudian dari hubungan itu kita
akan mampu memahami alam lebih jauh lagi. Sehingga, kembali pada topik ini,
dengan memahami alam, tentunya kita juga mampu untuk memahami filsafat
dalamkehidupan ini. Lalu dari mana memahaminya ? Ya, dari hubungan manusia
dengan alam tadi.
Akhir kata, sesuai dengan
apa yang telah menjadi dasar tulisan ini, yang saya pahami tentang filsafat
dalam kehidupan ini salah satunya terletak pada hubungan manusia dengan alam,
dan itulah yang sangat menarik perhatian saya selama ini.

Komentar