Mungkin, Masyarakat Pedalaman Perlu Bangun Koperasi Media
Ada beberapa alasan sebenarnya yang
mendorong saya untuk menulis tentang media komunitas ini. Pertama, di Ketapang
belum ada media yang benar-benar mampu menyuarakan kepentingan umum masyarakat.
Kedua, institusi media yang ada, sebagian besar dipegang oleh beberapa pemilik
modal atau pengusaha, sehingga yang menonjol justru kepentingan-kepentingan
para pemodal ketimbang kepentingan masyarakat. Ketiga, era informasi dan
digital cukup meresahkan, terutama kalau kita menelan mentah-mentah pemberitaan
dari media yang terkadang membingungkan dan lebih banyak memuat kepentingan
para elit.
Beberapa alasan itu yang semestinya
kita sadari sebagai bagian dari masyarakat yang terus berubah. Ketapang sebagai
salah satu kabupaten yang sebagian besar masyarakatnya hidup dan tinggal di
pedalaman perlu membangun media nya sendiri. Bukan media yang dikelola oleh
pemerintah, tetapi oleh masyarakat itu sendiri—dalam hal ini saya sebut sebagai
media komunitas—untuk tujuan menyuarakan kepentingan-kepentingan bersama. Namun
perlu dibatasi, media yang dimaksud akan dipersempit menjadi pers atau media
cetak saja misalnya koran, majalah, dan buletin.
Walaupun ada beberapa media
komunitas yang selama ini beredar di masyarakat, namun konsep pengelolaannya
lebih mirip media-media mainstream atau
lebih tepatnya media yang dipegang oleh para pemodal besar. Esensinya, sistem
pengelolaan seperti ini tentu saja lebih mengutamakan keuntungan secara ekonomi
ketimbang menyuarakan kepentingan masyarakat. Bahkan, tidak jarang ada beberapa
tulisan yang sengaja batal dimuat hanya gara-gara ada iklan yang masuk.
Pengalaman-pengalaman seperti
inilah yang kemudian mengharuskan adanya media alternatif untuk menampung
aspirasi dan kepentingan-kepentingan kita yang tidak terakomodir. Banyak yang
pesimis apabila dalam pengelolaan media tanpa berorientasi keuntungan maka hal
itu akan sia-sia. Nah, di sinilah
kita perlu membangun konsep yang berbeda dalam sistem pengelolaan media—khususnya
koran, majalah, atau buletin.
Media komunitas tentu harus
menyuarakan kepentingan umum masyarakat. Supaya tidak terjadi dominasi
kekuasaan di dalamnya, kepemilikan modal atau saham semestinya dipegang bersama
anggota komunitas atau masyarakat tersebut. Konsepnya hampir sama dengan
koperasi, namun bergerak di bidang media. Asumsinya, anggota seperti yang ada
di koperasi—misalnya CU—apabila dikonversikan ke dalam media komunitas disebut
pelanggan. Uang langganan inilah yang digunakan untuk mencetak maupun menggajih
para pengelola media komunitas.
Dengan sistem yang mirip dengan
koperasi ini, kebijakan dalam redaksi harus mengutamakan kepentingan bersama
para pelanggan. Apabila ada beberapa pelanggan yang ingin menanamkan saham
lebih besar dari pelanggan lainnya, maka perlu ada aturan yang membatasi jumlah
saham yang ditanam tersebut. Tetapi, kembali pada konsep awal bahwa hak dan
kewajiban tetap sama dengan pelanggan lainnya supaya tidak terjadi dominasi.
Melalui media komunitas seperti
ini, masyarakat juga dapat mempromosikan berbagai potensi-potensi yang
dimiliki. Selain itu, media komunitas juga dapat dijadikan sebagai salah satu
bentuk gerakan melawan ketimpangan dalam pembangunan di daerah. Pada tahapan
selanjutnya, media komunitas ini sebagai bentuk demonstrasi terhadap kebijakan
pemerintah yang terkadang tidak didialogkan dengan masyarakat terlebih dahulu.
Misalnya saja, di beberapa daerah ada pembangunan fasilitas umum yang tidak
sesuai kebutuhan masyarakat—contohnya pebuatan jembatan yang tidak pada posisi
yang ideal, WC umum yang terbengkalai, sistem air bersih yang tidak dikelola
dengan baik dan sebagainya.
Harapan akan kemajuan dan
pemerataan itulah yang menjadi cita-cita bersama dalam media komunitas yang
coba saya tawarkan di sini. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan
koperasi media yang orientasinya media komunitas ini, kita hanya butuh
kesepakatan dan kemauan bergerak saja. Siapa yang perlu bergerak ? Ya, kita
semua.
Walaupun umumnya masih banyak
perdebatan tentang konsep pengelolaan media komunitas ala koperasi ini, namun sebaiknya kita mulai saja dengan optimisme
tinggi. Proses yang telah berjalanlah yang akan menjawab tantangan tersebut,
bukan debat kusir yang biasa kita dengar. Sudah saatnya kita menjadi juru
bicara diri kita sendiri. Mari bergerak !
*) Pernah dipublikasikan di Majalah Betang edisi Juni 2013
*) Pernah dipublikasikan di Majalah Betang edisi Juni 2013


Komentar