Memotret Perempuan Lanjut Usia

Melihat kehidupan di Desa bagaikan merenungkan masa lalu. Ketenangan yang didapat melalui banyak perspektif akan memperkaya khasanah rasa dalam hidup kita. Hal ini telah menjadi pengalaman khas tersendiri dalam hidup. Bagaikan jenis musik, senandung yang didapat dan ditangkap oleh telinga sangat beragam. Bukan suara yang telah diaransemen sedemikian rupa sempurna nya, melainkan bunyi-bunyian alami tanpa dibajak. Disitu terdengar banyak nyanyian burung, hewan peliharaan, sungai yang mengalir, lagu-lagu tradisi yang semakin langka, suara anak-anak yang sedang bermain, para orang tua, dan hembusan angin. Semua mengalir begitu saja, mengiringi rasa yang kita dapat dari suasana yang saya sebut alamiah. Banyak keunikan yang didapat dari Desa, dan setiap pengalaman yang kita lalui memberikan rasa yang juga berbeda.

Pernah suatu sore, ketika senja hampir tiba aku berjalan melewati jalan yang berbatu, melintas dari keramaian orang-orang bermain bola voli. Arahku menuju ke utara, ada pertigaan di situ dan jalanku lurus saja. Ada sebuah rumah yang tidak asing lagi bagiku, interiornya biasa saja layaknya rumah-rumah sederhana orang Dayak. Bentuk arsitekturnya masih mengadopsi rumah-rumah jaman dulu, berfondasikan kayu besi (ulin), tingginya sekitar 1-2 meter dari permukaan tanah. Rumah itu sudah beberapa kali direnovasi, dan kini ukurannya semakin kecil. Di situ tinggal seorang nenek, kira-kira umurnya seitar 60-an tahun. Ketika aku datang ke situ, beliau sedang menjaga cucu-cucunya yang masih kecil, istilahnya dalam bahasa daerah setempat adalaha nguan. Aku disambut dengan sangat ramah tanpa ekspresi yang dibuat-buat. Agak terharu rasanya ketika memulai percakapan dengan beliau.

Banyak yang beliau ceritakan kepadaku, namun dalam hal ini aku hanya ingin berbagi tentang cerita kehidupan para orang tua di Desa. Orang tua yang dimaksud adalah mereka yang telah lanjut usia. Mungkin ini juga merupakan sedikit cerita mengenai tugas, kewajiban, dan rutinitas mereka yang sudah lanjut usia di Desa (Sepotong). Ini merupakan bagian dari sedikit cerita perempuan-perempuan yang sudah lanjut usia.

Ketika pagi tiba, seperti biasanya para orang lanjut usia di tempatku mulai memAsak nasi, mencuci peralatan yang kotor, memasak air untuk minum kopi/teh/susu. Setelah itu baru mereka memasak sayur untuk makan. Menjelang siang biasanya anak-anak mereka yang akan bekerja ke ladang, sawah, kantor atau kemanapun menitipkan anak-anaknya yang masih kecil untuk dijaga (nguan). Hal ini sudah umum di Desa kami. Selain nguan, mereka biasanya mencari kayu bakar, merawat kebun, memelihara ternak, memasak untuk cucu-cucunya, mendongeng, menyanyikan lagu-lagu tradisi (ngkunjau) suapaya cucu-cucunya bias istirahat di siang hari. Tugas-tugas ini bukanlah merupakan suatu beban bagi mereka, melainkan refreshing di masa pensiun.

Ketika malam tiba, dan setelah tugas-tugas di siang hari sudah terselesaikan, mereka akan menganyam berbagai kerjainan seperti tikar, kerajinan dari rotan, menyulam dan sebagainya. Aku salut ketika melihat mereka yang sudah lanjut usia seperti itu masih kuat untuk terus bekerja sampai larut malam, padahal pagi-pagi betul sebelum matahari muncul mereka sudah bangun. Mereka seolah bagaikan para penyair sekaligus pengrajin, babysister, body guard (bagi cucu-cucunya), koki, dan sebagainya. Mereka tidak henti-hentinya berkarya dengan sisa tenaga yang mereka miliki. Walau terkadang dari mulut mereka keluar omelan dan latahnya, namun itu bukanlah dari hatinya. Sepertinya hal tersebut hanya respon sesaat karena pengaruh usia yang semakin lanjut.

Saat ini sudah abad ke-21, tahun 2013 pula, dan mungkin ini merupakan generasi terakhir para perempuan lanjut usia dengan profesi konservatif seperti itu. Beberapa puluh tahun ke depan, mungkin saja situasi seperti ini sulit untuk dilihat lagi. Sulit untuk memotret perempuan lanjut usia dengan ketangguhan perannya yang ganda. Sulit untuk mendapatkan perempuan-perempuan “tua” yang banyak berkarya di sisa-sisa tenaga dan usianya. Ini merupakan kekhsan yang akan terus aku ingat. Kekhasan para perempuan lanjut usia yang sengaja aku potret melalui kegiatan mereka sehari-hari. Hal ini memang kelihatan sederhana, tetapi terus terang saja aku merasa ini hal yang unik, rumit dan menarik. Ternyata di sinilah menariknya perempuan-perempuan yang telah lanjut usia bila dibandingkan dengan mereka yang masih muda.
Sepotong, 14 Januari 2013
FM 

Komentar

Postingan Populer