Kisah Expedition Club di Desa Sepotong
![]() |
| Dokumen Expedition Club Desa Sepotong Personil EC berpose sebelum turun ke lapangan untuk menanam pohon serta mencegah kebakaran hutan di sekitar sumber air bersih di Bukit Bukong, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, kalimantan Barat. |
Ini kami sebut sebagai langkah awal menuju sebuah cita-cita luhur akan lestarinya lingkungan hidup. Dimana keprihatinan menjadi dasar terbentuknya kepedulian dalam diri akan itu. Lingkungan yang semakin terperosok ke dalam jurang kehancuran. Terlihat dari suhu panas bumi yang sekmakin meningkat, bencana banjir yang marak melanda, ditambah lagi hutan yang semakin gundul. Sungguh ironis, saat musim kemarau air yang merupakan kebutuhan pokok hidup manusia menjadi sangat langka, sedangkan pada musim penghujan, memang melimpah, tetapi banjir sering kali melanda. Walaupun sebenarnya ada sungai yang mengalir melewati Desa Sepotong, yaitu Sungai Laur.
Dulunya, pada saat awal kepindahan masyarakat Sepotong (Dayak Laor) ke daerah sekitar aliran Sungai Laur dari daerah hutan yang kini disebut Tambawakng Rumah Botang, sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar. Sungai Laor dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan hidup dan kegiatan adat (seperti halnya nubok), atau tempat rekreasi masyarakatnya. Namun sepuluh tahun terakhir (sejak tahun 2001), akibat dari penambangan liar yang dilakukan sekelompok orang di bagian hulu Sungai Laur, sungai yang dulunya bersih, jernih, dan dapat untuk memenuhi kebutuhan hidup kini terkontaminasi merkuri. Jangankan untuk keperluan memasak atau sejenisnya, untuk mandi saja bisa menyebabkan badan menjadi gatal-gatal atau sejenis alergi.
Sebagai bentuk solusi dalam menyelesaikan masalah tersebut, pada tahun 2002 aparatur Desa Sepotong membangun sebuah bendung air di daerah Bukit Bukokng. Dengan memanfaatkan ketinggian bukit tersebut, air yang ditampung oleh bendung air dialirkan melalui pipa-pipa ke daerah pedesaan (Sepotong), yang kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan hidro masyarakat Sepotong. Selama beberapa tahun masih berjalan lancar, bakti sosial untuk membersihkan sumber penampungan air rutin dilakuakn setiap beberapa bulan dan pembayaran rekening airpun masih “lurus-lurus” saja. Waktu itu, tahun 2002 sampai 2003, per bulannya setiap anggota keluarga yang mengalirkan pipa langsung ke rumahnya hanya dikenakan biaya Rp 3000,-. Uang tersebut digunakan untuk biaya operasional dan logistik para petugas yang membersihkan daerah penampungan.
Untuk menuju ke Bukit Bukokng sendiri, perlu perjalannan yang lumayan menyita waktu dan tenaga. Pertama harus menyeberang Sungai Laur dengan menggunakan sampan, dengan lebar sungai kira-kira 25 meter. Setelah itu, berjalan menyusuri hutan dan perkebunan karet alam sekitar sepuluh menit lamanya sehingga sampai pada padang alang-alang yang sangat luas. Perlu tenaga yang ekstra untuk melewati padang alang-alang ini, selain karena harus naik turun bukit, karena hutannya yang sudah gundul mengakibatkan terik matahari begitu menyengat, dan tumbuhan alang-alang yang tajam itu sendiri sering kali meggores tubuh kita dan mengakibatkan luka-luka kecil yang lumayan banyak.Setelah melewati padang alang-alang selama puluhan menit, baru menemukan kembali hutan yang luasnya semakin berkurang. Perjalanan terus menuju ke barat, suatu pendakian yang cukup membahayakan karena kemiringan lereng bukit yang hampir vertikal sembilan puluh derajat, ditambah lagi bebatuan sejenis batu kali yang kasar dan keras yang “menyeramkan” cukup menambah rintangan dalam mengarunginya. Setelah itu barulah sampai di pembendung air yang dibuat dari beton setebal enam puluh senti meter. Perjalanan yang lumayan melelahkan bukan?
![]() |
| Dokumentasi Ekspedition Club. Foto: Fornestor MindawPerjalanan menuju Bukit Bukong yang tandus, tempat penanaman pohon |
Kembali pada air bersih tadi, begitulah rutinitas selama dua tahun pertama kehadiran bendung penampungan air bersih di Desa Sepotong. Namun lambat laun, kepedulian akan bendung air bersih dari masyarakat pada umumnya kian berkurang. Bahkan sampai saat ini hanya orang-orang terstentu saja yang tergugah hatinya untuk berkorban membersihkan bendung air di Bukit Bukokng, sebut saja misalnya Ronal alias Belaca, atau hanya orang-orang yang berladang di sekitar itu saja, dan inilah kemudian yang menjadi keprihatinan kami selaku penduduk asli dan pemuda Desa Sepotong. Maka pada tanggal 7 Januari 2009 terbentuklah organisasi yang berbasis pada lingkungan hidup dan diberi nama Expedition Club (EC).
EC sendiri telah beberapa kali melakukan ekspedisi yang bertujuan untuk menggali kesadaran para anggotanya terhadap pentingnya lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia. Selain berwacana, tindakan nyatanya, EC telah melakukan dua kali ekspedisi ke Bukit Bukokng (10 Januari 2009 dan 6 Januari 2011) untuk melakukan bakti sosial membersihkan lingkungan sekitar bendung air bersih, menanam pohon di bagian yang tandus, dan bermalam selama satu malam penuh untuk “bersilaturahmi” dengan alam. Selain itu, EC juga pernah melakukan ekspedisi di Hutan Kampokng (Durian) pada November 2009 dan ekspedisi Bukit Encanggah pada 31 Juli 2010. Adapun tujuannya hampir sama dengan ekspedisi Bukit Bukokng.
Sedikit bercerita, untuk ekspedisi EC yang pertama ke Bukit Bukokng pada tanggal 10 Januari 2009, keberangkatan disaksikan langsung oleh Kades Desa Sepotong waktu itu, Pak Petrus Lodji dan mendapat berkat dari Pastor Yosep, CP. Dengan ijin langsung dari Desa, dan peralatan yang dipinjam dari Pastoran Paroki Keluarga Kudus Sepotong, EC sukses mengadakan ekspedisinya yang pertama.



Komentar