Berkunjung ke SMP St. Alfonsus Sepotong
![]() |
| Foto: Fornestor Mindaw Siswa-siswi SMP Santo Alfonsus Sepotong saat berbaris pada Januari 2013 |
Kesempatan yang tidak boleh saya sia-siakan sore itu, dan
beberapa gambar terambil serta ada sebagian saya rekam menjadi video. Saya juga
ditawari untuk memberikan motivasi untuk siswa kelas 7. Sungguh merupakan
sambutan baik dari pihak sekolah. Berbicara sedikit di depan siswa-siswi kelas
7 SMP St. Alfonsus kembali mengingatkan saya ketika menjadi murid di situ 8
tahun yang lalu. Suasana begitu berbeda jika dibandingkan delapan tahun yang
lalu. Mereka menggunakan seragam dengan baju kameja kotak-kotak merah dan
celana hitam pendek. Mereka sedang belajar mata pelajaran “Teknologi dan Informasi”,
yang pada jaman saya SMP belum ada di sekolah tersebut. Pengampu mata pelajaran
tersebut adalah Pak Radarto yang juga Kepala Sekolah SMP St. Alfonsus Sepotong.
Suatu kemajuan pikir saya, walaupun tanpa ada laboratorium komputer untuk
praktek. Jangankan laboratorium seperti sekolah di Kota, perpustakaan saja tidak
tampak adanya.
Dari kunjungan singkat ini ada beberapa hal yang saya rasa
menarik untuk diceritakan, terutama mengenai temuan-temuan observasi di sekolah
tersebut. Banyak pertanyaan yang mengalir di kepala saya saat itu, terutama
mengenai perpustakaan sekolah yang menurut saya jauh dari harapan. Kita tahu
bahwa perpustakaan merupakan salah satu fasilitas penting dalam institusi
pendidikan, dalam hal ini adalah sekolah. Sayangnya, ketika saya datang ke
sekolah tersebut, ada satu ruangan yang katanya perpustakaan, tertutup rapat
dan dikunci. Saya tidak tahu pasti apa yang ada di dalamnya, dan sayapun tidak
berani berspekulasi tentang perpustakaan di sekolah tersebut. Dalam hal ini,
saya tidak bermaksud untuk mengkritik atau menyalahkan berbagai pihak, tetapi
inilah salah satu kondisi sekolah yang berada di pedalaman, walaupun sudah
banyak alumni dari sekolah ini menjadi “orang” penting dan berhasil.
Di sisi lain, saya juga menemukan beberapa tembok sekolah
yang pecah dan bocor, plang sekolah yang sudah tidak ada lagi, serta beberapa
siswa yang tidak menggunakan alas kaki. Saya juga sempat melihat beberapa buku
pegangan guru yang kondisinya memprihatinkan, papan tulis yang sudah usang,
serta fasilitas sekolah yang sebenarnya saya anggap tidak layak pakai. Di
tembok barat kantor guru ada foto Presiden dan Wakil Presiden tanpa bingkai dan
kaca, serta lambang Negara “Burung Garuda” tergantung di pakunya masing-masing.
Ini merupakan penataan ruangan yang saya lihat sebagai penataan seadanya. Tidak
ada kantor khusus Kepala Sekolah di situ, dan hanya ada satu meja dengan ukuran
1 x 0,5 meter yang sama dengan guru lainnya. Di belakang meja tersebut ada
poster berukuran A2 yang berisikan informasi mengenai kegunaan Dana Bantuan
Operasional Sekolah.
Beberapa obrolan yang terjadi antara saya dan guru-guru di
SMP St. Alfonsus juga memberikan informasi kepada saya mengenai kurangnya
bacaan untuk guru-guru di situ, baik itu buku, majalah, koran, tabloid, karya-karya
ilmiah dan bacaan-bacaan lainnya. Hal ini terungkap ketika saya memberikan
majalah “Betang”, sebuah majalah terbitan mahasiswa-mahasiswi Ketapang di
Yogyakarta kepada pihak sekolah. Padahal, melalui berbagai bacaan itu ilmu
pengetahuan yang akan diajarkan kepada murid dikembangkan dan disesuaikan
dengan kondisi sosial masyarakat saat ini. Argumen saya, saat ini orang sedang
menghadapi yang namanya orde informasi, dan melalui berbagai media, informasi
dibagikan untuk membantu proses perkembangan sosial, pendidikan, ekonomi dan
politik masyarakat. Ketika informasi ini sangat sulit untuk diakses, maka saya
berargumen bahwa kondisi masyarakat beserta institusi sosialnya akan stagnan
dan bahkan tertinggal. Bukankah ini hanya akan membuat kesenjangan antara
mereka yang sekolah di pedalman dan di kota semakin tinggi ? Padahal amanah UUD
’45 mengisyaratkan kepada kita mengenai keadilan dalam hak untuk menerima
pendidikan yang sama kepada rakyatnya.
Melihat situasi dan kondisi sekolah tersebut, membuat saya
merasa terpanggil untuk belajar mengenai sistem pengelolaan di sekolah itu
sekaligus belajar untuk melayani (mengajar) para siswa-siswi di almamater saya
tersebut. Tujuan saya adalah melihat kendala-kendala, tantangan, dan kesulitan
yang dihadapi SMP St. Alfonsus. Di benak saya terbayangkan beberapa hal yang
ingin saya perbuat, mengimajinasikan gerakan-gerakan yang mungkin saja bisa
diterima di sekolah tersebut. Dengan begitu, semua orang yang terkait dengan
SMP St. Alfonsus, baik guru-guru, para murid, orang tua murid, pemerintah,
pihak yayasan atau siapa saja yang peduli dengan SMP tersebut ambil bagian
dalam menyusun strategi untuk cita-cita luhur bersama. Cita-cita itu adalah
meningkatkan kualitas sekolah dan menjadikan SMP St. Alfonsus layaknya institusi
pendidikan yang meberikan layanan terbaik untuk siswa-siswinya. Ada beberapa
strategi sebetulnya bisa dilakukan untuk
kemajuan sekolah di pedalaman. Pertama adalah dialog yang seimbang antara para
pihak sekolah, orang tua murid, yayasan, pakar dan pemerhati pendidikan, dan
bila perlu pemerintah (walaupun ini adalah sekolah swasta).
Melalui sistem yang seimbang seperti ini, semua pihak yang
terkait sama-sama memiliki rasa tanggung jawab untuk peningkatan mutu di SMP
St. Alfonsus. Di era informasi dan keterbukaan saat ini, masukan berbagai pihak
sangat diperlukan untuk perkembangan institusi manapun. Tidak menutup
kemungkinan, SMP St. Alfonsus akan sejajar dengan sekolah-sekolah di kota.
Bahkan, apabila mutu pendidikan di Sepotong, khususnya di SMP St. Alfonsus
tergolong baik, pengaruhnya bisa merambah ke bidang lain seperti ekonomi,
pembangunan, dan sebagainya. Saya sempat membayangkan bila Desa Sepotong bisa
menjadi pusat pendidikan di Sungai Laur yang terkenal dengan mutu
pendidikannnya yang berkualitas. Betapa hal ini akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi di Sepotong, dimana akan ada peluang usaha-usaha baru seperti buka
kos-kosan/kontrakan, asrama, penjualan alat-alat tulis/kantor, usaha fotokopi,
dan lain-lain.
Harapan saya secara pribadi, melaui gerakan atas kesadaran
bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sepotong akan ada perhatian
khusus dari Pemerintah, paling tidak dalam membangun infrastruktur jalan yang
memadai, membantu dalam mengadakan buku-buku berkualitas untuk koleksi
perpustakaan, dan perhatian untuk Guru dan siswa-siswi di pedalaman juga
meningkat. Namun, banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai cita-cita
ini semua, perlu gerakan yang masif, peran yang sesuai koridor dari berbagai
pihak, dan tentunya kemaun dari kita yang merasa menjadi bagian dari SMP St.
Alfonsus. Bukan saling menyalahkan antara orang tua murid, pihak sekolah,
masyarakat umum, yayasan atau siapa saja dalam menghadapi kesulitan-kesulitan
yang ada. Langkah-langkah yang dipilih untuk penyelesaian masalah ini
diharapkan memberi yang terbaik untuk pendidikan di Sepotong.






Komentar